Beranda > Informasi & Komunikasi > Potensi Teklonogi Komputer dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Potensi Teklonogi Komputer dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN
KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI KELAS

Teknologi
komunikasi dan informasi dalam pendidikan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan
pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut
Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan  TIK ada
lima pergeseran dalam proses
pembelajaran yaitu:

(1) dari
pelatihan ke penampilan,

(2) dari ruang
kelas ke di mana dan kapan saja,

(3) dari
kertas ke “on line” atau saluran,

(4) fasilitas
fisik ke fasilitas jaringan kerja,

(5) dari waktu
siklus ke waktu nyata.
Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan
media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb.
Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap
muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat
memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula
siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber
melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.
Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching”
atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan
internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu
model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi
khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu
penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan
luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:

(1) e-learning
merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, enyimpan, mendistribusi
dan membagi materi ajar atau informasi,

(2) pengiriman
sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi
internet yang standar,

(3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik
paradigma pembelajaran tradisional.  Saat ini e-learning telah berkembang dalam 
berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti:  CBT (Computer Based
Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance
Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS
(Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom),
Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.

Satu bentuk produk TIK adalah internet  yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini
menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal
batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat
mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan
pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam
kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi
internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan.
Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia
modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini
sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat
manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang
ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas
dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK  telah mengubah
wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang
ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas
maupun di luar kelas.

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka  pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat  tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. 
Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan dalam tema “Asia in the New Millenium” yang memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan yang akan terjadi di Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. termasuk di dalamnya pengaruh revolusi internet dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin
Paul Ajjelo dengan judul “Rebooting:The Mind Starts at School”. Dalam tulisan
tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan
jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti
laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku
dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut
sebagai “cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak
melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola
belajar yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui
komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan
aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk
memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan
kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga
anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai
dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih
kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi
anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju
berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi
seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan
peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.  

             
Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi
tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini,  akan
tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang
bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat
atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara, (2) Jam
tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk
masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak,
akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) alat-alat musik, (5) alat olah
raga, dan (6) bingkisan untuk makan siang.  Hal itu menunjukkan bahwa segala
kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa
internet sebagai alat bantu belajar.    
    Meskipun teknologi informasi komunikasi dalam bentuk komputer dan internet
telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif
dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari
sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu
sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses
pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran
yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya
ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang
memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah
dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan
kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung,
dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan
pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik
dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.

Pergeseran
pandangan tentang pembelajaran

          
Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal
yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada
teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan
guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan
kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memilikio pengetahuan dan
ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu
siswa agar mencaqpai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK,
maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas
maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada
pada masa sekarang), proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang
sulit dan berat, (2) upoaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer
dan penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang
dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan
terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah
terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai:
(1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses
linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan
kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat,
dan kulktur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas,
perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.

             
Hal itu telah menguban peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah
berubah dari: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli
materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran,
pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar; (2) dari
mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak
memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam
proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah
mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadi
partisipan aktif dalam proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan kembali
pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan, (3) dari pembelajaran
sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif
dengan siswa lain.

             
Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru telah bergesar
menjadi berpusat pada siswa. Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut:

  Lingkungan   Berpusat
  pada guru
  Berpusat
  pada siswa
  Aktivitas
  kelas
  Guru sebagai
  sentral dan bersifat didaktis
  Siswa
  sebagai sentral dan bersifat interaktif
  Peran guru   line-Menyampaikan
  fakta-fakta, guru sebagai akhli
  Kolaboratif,
  kadang-kadang siswa sebagai  akhli
  Penekanan
  pengajaran
  Mengingat
  fakta-fakta
  Hubungan
  antara informasi dan temuan
  Konsep
  pengetahuan
  Akumujlasi
  fakta secara kuantitas
  Transformasi
  fakta-fakta
  Penampilan
  keberhasilan
  line-height:150%”>Penilaian
  acuan norma
  line-height:150%”>Kuantitas
  pemahaman , penilaian acuan patokan
  Penilaian   line-height:150%”>Soal-soal
  pilihan berganda
  line-height:150%”>Protofolio,
  pemecahan masalah, dan penampilan
  Penggunaan
  teknologi
  line-height:150%”>Latihan dan
  praktek
  line-height:150%”>Komunikasi,
  akses, kolaborasi, ekspresi

    

Kreativitas
dan kemandirian belajar
Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara  sebagaimana dikemukakan di atas,
jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil 
pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan
terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan
produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas
pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara
keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar
maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya.
Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri
sehingga memungkinkan mengembangkan  semua potensi yang dimilikinya..

             
Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan
kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan.
Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara
lain: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk
mengaktualisasikan dirinya, kedua, kreativitas memungkinkan orang dapat
menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, ketiga, kreativitas dapat
memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia
meningkatkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan
kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian.
Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yang kuat,
rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, tidak
mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa humor, selalu ingin mencari
pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya
kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, dapat ditransformasikan,
dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam
kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi
individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya.
Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan
kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir
dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat
terhadap berbagai hal.

line-height:150%”>             
Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat
dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan
kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat
menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan
dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK
siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan
mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang
kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan
kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik
terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.

line-height:150%”> 

line-height:150%”> 

line-height:150%”>Peran guru

line-height:150%”> 

line-height:150%”>             
Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki
kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik
dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan
dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus
menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan
memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi
informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah
peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan
hanya salah satu sumber informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing
Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa
mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih
(coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan
pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang
sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya
sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan
prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. Hal
ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan
petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para
pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang
ada. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi
belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana
psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping
itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah
perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian
dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan
belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang
pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan
tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini
mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan
tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan
guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan
perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat
kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam
berbagai kegiatan lain di luiar mengajar. Sebagai pembelajar, guru harus secara
terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan
kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan
inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan
tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi
yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang
kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu
harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis
kualitas profesionaliemenya.

  1. Desember 13, 2008 pukul 6:52 am

    Nice post brooooo, kebetulan aku juga seorang guru komputer. sayang para murid sudah hitech tp masih banyak guru yang masih gaptek😦

    salam kenal ya, regards

  2. Desember 22, 2008 pukul 5:39 pm

    refinance [url=http://www.kingbloom.com/45-151-kingbloom.html ] refinance [/url] [link=http://www.kingbloom.com/45-151-kingbloom.html ] refinance [/link] foreclosure [url=http://www.godlyreminders.com/finance/?p=4 ] foreclosure [/url] [link=http://www.godlyreminders.com/finance/?p=4 ] foreclosure [/link] refinance [url=http://www.360webdirectory.com/pageview.aspx?tab=3&sid=5&lc=L ] refinance [/url] [link=http://www.360webdirectory.com/pageview.aspx?tab=3&sid=5&lc=L ] refinance [/link] credit repair [url=http://www.theseoking.com/Business/financial/page-21.html?s=H&p=401 ] credit repair [/url] [link=http://www.theseoking.com/Business/financial/page-21.html?s=H&p=401 ] credit repair [/link] foreclosure [url=http://www.gotlink.info/Business_Economy/Financial_Services/?p=7 ] foreclosure [/url] [link=http://www.gotlink.info/Business_Economy/Financial_Services/?p=7 ] foreclosure [/link] refinance [url=http://www.freebie-articles.com/directory/Finance_Investing/Mortgages_Home_Loans/page-2.html ] refinance [/url] [link=http://www.freebie-articles.com/directory/Finance_Investing/Mortgages_Home_Loans/page-2.html ] refinance [/link] loan modification [url=http://www.search-group.com/Business___Economy/Financial_Services/page-17.html ] loan modification [/url] [link=http://www.search-group.com/Business___Economy/Financial_Services/page-17.html ] loan modification [/link] credit repair [url=http://www.mabontland.com/index.php?c=190-1 ] credit repair [/url] [link=http://www.mabontland.com/index.php?c=190-1 ] credit repair [/link] loan modification [url=http://www.2searchtech.com/Business/Financial_Services/ ] loan modification [/url] [link=http://www.2searchtech.com/Business/Financial_Services/ ] loan modification [/link] mortgage [url=http://www.apexoo.com/directory/Business/Mortgage/2/ ] mortgage [/url] [link=http://www.apexoo.com/directory/Business/Mortgage/2/ ] mortgage [/link] mortgage [url=http://www.mabontland.com/index.php?q=marketing&s=5 ] mortgage [/url] [link=http://www.mabontland.com/index.php?q=marketing&s=5 ] mortgage [/link] loan modification [url=http://www.themedirectory.net/index.php?c=246&s=31 ] loan modification [/url] [link=http://www.themedirectory.net/index.php?c=246&s=31 ] loan modification [/link] foreclosure [url=http://job.lemaroc.org/our_mortgage.html ] foreclosure [/url] [link=http://job.lemaroc.org/our_mortgage.html ] foreclosure [/link] refinance [url=http://www.he-directory.com/Business/Financial_Services/?s=A&p=501 ] refinance [/url] [link=http://www.he-directory.com/Business/Financial_Services/?s=A&p=501 ] refinance [/link] credit repair [url=http://www.barefoot-wedding.com/dir/mortgage-portfolio-sales.html ] credit repair [/url] [link=http://www.barefoot-wedding.com/dir/mortgage-portfolio-sales.html ] credit repair [/link] mortgage [url=http://www.abilogic.com/dir/business/Financial_Services/Mortgages/page_2.html ] mortgage [/url] [link=http://www.abilogic.com/dir/business/Financial_Services/Mortgages/page_2.html ] mortgage [/link]

  1. Desember 15, 2008 pukul 7:55 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: